Rubrik Pakar
Senin, 27 Oktober 2014
Deal with the Y-ers


Many times, saya dengar teman saya, HR Perusahaan Asuransi, mengeluh mengenai generation Y (“Gen-Y”). Mereka bilang, “Gen-Y itu gak loyal, dulu orang bekerja di 1 perusahaan 5 tahun belum lama, tapi sekarang 2 tahun aja sudah dianggap lama” atau “Gen-Y itu ekspektasinya tinggi, minta gaji pede sekali tingginya, tapi kerjaan pilih-pilih”. And of course, so many other complaints along the road......

Anyway, daripada misuh-misuh terus, toh keadaan tidak berubah juga dengan misuh-misuh. Kenapa tidak berubah? Ya iyalah, we cannot have all employees from generation X only, they are getting more senior these days. Jadi daripada misuh-misuh, let’s we take accountability dengan menghadapi kenyataan bahwa generation Y adalah kenyataan dan seharusnya bagaimana cara kita menghadapi mereka. First thing first, understand them.

Gen- Y are very much loved by their parents

Hai HR! Pahamilah dan mengertilah, kebanyakan Gen-Y adalah generasi yang dibesarkan dengan double-income parents. Artinya, mereka banyak mengalami hal-hal “terlalu disayang” oleh orang tua mereka. Karena keduanya bekerja, mereka terbiasa untuk mendapat perhatian secara cuma-cuma dari orang tua mereka karena rasa bersalah orang tua mereka yang sering meninggalkan mereka dirumah karena bekerja. Unlike older generation, mereka dididik untuk melakukan sesuatu dulu sebelum dapat hadiah seperti dapat nilai bagus.

Gen-Y are very much into flexibility

Gen-Y dibesarkan di era dimana jaman berubah dengan cepat. Bukannya Cuma butuh 15 year dari Nokia to blackberry dan sekarang ke smartphone? Kita mengerti sekarang, jaman berubah dengan cepat, popularitas selebriti, produksi film blockbuster, tren makanan, dll. Somehow, ini mempengaruhi pikiran kebanyakan Gen-Y bahwa semua berubah cepat. So, as HR from Insurance company, kalau kita hire Gen-Y untuk satu pekerjaan yang sama selama 10 tahun, 100% mereka pasti kabur. Mereka suka job challenge dan job task yang lebih variatif dan fleksibel. Berbeda dengan older generation, mereka lebih suka sesuatu yang stabil. Jadi, bagi Anda yang memikirkan bagaimana cara meretain Gen-Y, bisa dipertimbangkan juga untuk activity di kantor yang variatif dari pekerjaan sehari-sehari misal social volunteer, Friday’s colleague night out atau libatkan mereka di pelatihan become trainer for others, dsm.

Gen-Y are very much into future prospect & career growth.

Gen-Y are very interested to join a company with significant growing prospect. Perusahaannya tidak harus sudah besar tapi mereka lebih suka company dengan vision of future growth yang jelas dan jelas bukan tipe perusahaan yang risky. The big progress of Gen-Y adalah mereka meletakkan prospect of career growth sebagai alasan priority dalam menerima tawaran pekerjaan. Hal ini pernah saya alami secara real, ketika kandidat saya, salah seorang fresh grad lulusan Amerika, dia memutuskan untuk take career dari perusahaan yang menurut dia lebih menawarkan job desc yang beragam ketimbang pekerjaan lain yang lebih well-paid.  Sebagian besar Gen-Y, including myself, kami sangat tertarik dengan kesempatan untuk belajar lebih banyak (training,dll). Hal ini salah satu alasan saya, kenapa saya sempat memilih untuk membangun karir di banking.

Gen-Y adalah suatu fenomena kenyataan yang dihadapi banyak HR termasuk HR di Industri Asuransi. Kebanyakan selalu mengeluh kenegatifan mereka, mereka tidak loyal, banyak maunya, dll. Hei! It’s time for enlightment! Gen-Y adalah kenyataan, like it or not. The challenge is now how we gonna shape our company to attract and retain them. Kalau berhasil, impactnya akan besar karena seperti yang saya sebutkan sebelumnya mereka generasi yang lebih dinamis dan banyak energi kreatifitas dan pikiran baru yang akan mereka bawa ke organisasi anda. Bukankah ini hal positif untuk organisasi anda?

Profil Penulis

Stanny Kusumadewi

 Stanny Kusumadewi is having her type of mixed educational background between Architecture and Business. She graduated from Universitas Tarumanagara Jakarta in 2009 and earned her degree in Architecture. She pursued her dream to live overseas in 2010 by studying for her master degree in Business. In 2012, she graduated with The Dean’s Award from Charles Sturt University in Melbourne. Not only her education, but her working experience is ‘mixed between this and that’, say marketing, analytics and even direct sales position on the street. She always think she has bad resume because of her ‘mixed-things’, but life has brought her to a profession where her experiences benefit her. She is now a professional headhunter and recruitment consultant to many companies in Indonesia and sharing to you about her very own experiences in  Human Resources industry.