Rubrik Pakar
Sabtu, 4 Oktober 2014
Pentingnya mengetahui Sifat Karyawan


“We hire based on skill, but we fire people based on attitude”


Sering dengar pernyataan ini? Beberapa teman saya, termasuk didalamnya Team Human Resources dari beberapa perusahaan asuransi apabila disuruh memilih ketika dihadapkan kepada 2 pilihan antara si A & si B dimana si A adalah High Achiever & Bad Attitude sedangkan si B adalah average achiever tapi Excellent attitude, mana yang akan mereka pilih?

Si B, tentunya!!

Ini adalah kenyataan. Kita akan selalu memihak kepada mereka yang achievementnya standard tapi menunjukan usaha giat dan gigih terhadap kerja juga menunjukkan respect terhadap atasan, peraturan kerja dan rekan kerja, daripada mereka yang achievementnya setinggi langit tapi tidak pernah menghargai rekan kerjanya. Saya tidak tahu pendapat anda, tapi saya yakin jawaban yang sama akan diungkapkan 90% responden termasuk responden dari perusahaan asuransi. 

Itu adalah kenyataan, sekarang bagian kontradiksinya. Bagaimanapun kita tahu behaviour adalah aspek yang penting, tapi kita sebagai HRD selalu menitik-beratkan mereka kepada tes logika, tes ketahanan terhadap tekanan, tes skill, tes IQ, tes angka, dll pada saat proses interview mereka pertama kali. Tes attitude/behaviour kerap kali diacuhkan apabila dibandingkan dengan tes lainnya. Ini mengapa topik saya kali ini adalah mengenai kepentingan personality test yang dalam artikel kali ini, saya akan membahas D-I-S-C Assessment (Baca: Disc assessment)

DISC Assessment adalah sebuah tes untuk mengukur kelakuan seseorang, yang pertama kali dibuat oleh seorang psikolog bernama William Marston di tahun 1972. DISC sebenarnya adalah kepanjangan dari dan terdiri dari empat tipe kepribadian yaitu D (Dominance), I (Inducement), S(Submission), C (Compliance). Seseorang tentunya tidak akan memiliki hanya salah satu dari empat tipe itu, malahan bisa jadi kombinasi dari 2 atau 3 kepribadian (dan malah keempatnya). Saya, contohnya, saya memiliki D, I dan C yang menonjol sedangkan S-nya sangat kecil. Kapan D, I atau C saya menonjol tergantung pada suasana yang sedang saya hadapi misal saat bekerja di kantor atau saat natural hang-out sama teman. Ada juga beberapa orang yang memiliki ekstrim ke suatu personality misalnya ‘Double-D’. Teringat salah satu cerita teman dari Perusahaan Asuransi yang memiliki seorang tenaga office boy berkepribadian ‘Double-D’, jadi ketika ada meeting penting di ruang BOD di kantor, ditengah-tengah hot discussion, eh si OB dengan cuek langsung masuk anterin kopi mereka. 

Tipikal dominan paling mudah kita lihat didalam seorang leader. Sebagai tipikal D (Dominance), seseorang muncul lebih kuat daripada sekitarnya. Sebenarnya orang-orang berkarakter I (Inducement) juga lebih menonjol daripada lingkungannya, bedanya karakter I, dia akan muncul sebagai orang yang sabar, penolong dan baik hati. Kalau orang D, dia akan lebih langsung dan straight to the point; orang I, dia lebih banyak muter-muter untuk menuju suatu titik tapi mungkin sebenarnya dia sedang guide anda ke satu titik. Orang S beda lagi. S identik dengan kata Steady and Safe. Normally, orang-orang karakter S akan cenderung lebih suka pekerjaan yang sama dan cenderung suka lingkungan yang tidak dinamis, contoh posisi yang cocok adalah Administration dan operation. Terakhir, orang karakter C adalah tipikal orang yang sukanya mengikuti aturan atau sesuai fakta yang sudah teruji. Posisi Akunting di perusahaan anda seharusnya diisi oleh orang karakter C. 

Penting buat kita sebagai HRD di sebuah perusahaan, baik perbankan, asuransi, pada jenis perusahaan lainnya untuk mengerti karakter yang terdapat dalam diri seorang kandidat dan karyawan di perusahaan kita. Mengenali karakter tentunya berarti bahwa karakter yang kita ketahui adalah sudah dites terlebih dahulu, bisa dibuktikan dan bukan hanya dari kelihatannya si kandidat saja. Ingat! Belum tentu yang kita lihat itu adalah karakter asli karena banyak pencitraan dimana-mana. Jangan ekspektasi seseorang dengan less/minority D untuk menjadi pemimpin department yang baik, mungkin dia good performer, tapi belum tentu dia good people developer. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa, karena kita tahu si kandidat adalah orang yang less D, maka kita bisa bantu dia dengan training for leadership, coaching, mentoring atau material-material lain yang berbau leadership. Karakter ‘D’ nya tentu bisa berkembang over time. Semua karakter diatas tidak ada yang baik atau buruk, semua ada kelebihan dan kekurangan begitu juga dengan semua kombinasi personalitynya. Ini semua kembali lagi ke tantangan kita untuk menempatkan tipe-tipe tersebut di tempat yang tepat sehingga kita bisa memaksimumkan performance setiap orang. 
 
Kita bisa menemukan DISC test secara gratis di internet, namun yang gratis itu hanya menunjukan hasil singkat dan penjelasan 1 baris mengenai karakter seseorang. Kalau itu cukup menurut anda, it’s ok and better than nothing. Jika anda contact professional provider DISC assessment, anda bisa mendapatkan penjelasan yang menyeluruh mengenai karakteristik seseorang, bagaimana cara memaksimumkan nilai positifnya, meminimumkan nilai negatifnya dan lainnya. Tes DISC secara lengkap adalah sebuah tool yang menurut saya menakjubkan, karena hanya dari 10 menit test, anda bisa mendapatkan hasil lengkap sampai 40-50 lembar penjelasan mengenai diri anda/karyawan anda. Dengan memahami karyawan anda secara detail, anda telah turut menyumbangkan hasil performa maksimum dan mengurangi stress pada pekerjaan karyawan. 
 
Profil Penulis

Stanny Kusumadewi

 Stanny Kusumadewi is having her type of mixed educational background between Architecture and Business. She graduated from Universitas Tarumanagara Jakarta in 2009 and earned her degree in Architecture. She pursued her dream to live overseas in 2010 by studying for her master degree in Business. In 2012, she graduated with The Dean’s Award from Charles Sturt University in Melbourne. Not only her education, but her working experience is ‘mixed between this and that’, say marketing, analytics and even direct sales position on the street. She always think she has bad resume because of her ‘mixed-things’, but life has brought her to a profession where her experiences benefit her. She is now a professional headhunter and recruitment consultant to many companies in Indonesia and sharing to you about her very own experiences in  Human Resources industry.