Agents Insight
Senin, 2 Maret 2015
Tujuannya Murni Proteksi


 
Bila dibandingkan dengan negara Asia lainnya, penetrasi asuransi di Indonesia memang masih sangat rendah. Masih kalah bila dibandingkan dengan negara tetangga seperti Singapura maupun Malaysia. Dan sangat kalah jauh dengan Jepang, misalnya.
 
Untuk Jepang memang sulit untuk dibandingkan. Maklum saja, di Jepang, seperti dikatakan Lucy Dewani Soeradji, CFP, satu nasabah bisa memiliki enam polis asuransi. “Ini karena mereka melek akan kebutuhan asuransi. Positioningnya, kalau nggak punya asuransi lebih dari satu, mereka nggak akan hidup dengan tenang,” imbuh MDRT Country Chair Indonesia 2013-2014 ini.
 
Perang agen menjadi penting dalam membantu nasabah memilih produk asuransi. Tidak demikian dengan Indonesia. Awalnya, orang banyak menjual investasi. “Sebagai agen, tujuannya harus murni proteksi. Sekaligus ditekankan nilai ekonomi yang dilindungi,” kata Lucy saat ditemui IMN di kantornya beberapa waktu lalu.
 
Sayangnya, manfaat proteksi maupun nilai ekonomi yang dilindungi kerap tidak dibeberkan dengan seksama oleh agen. Pun tidak mempertimbangkan kebutuhan nasabah atas produk asuransi.

 
“Agen tidak banyak mendengarkan apa yang nasabah mau. Dia hanya mau menjelaskan apa yang dia mau, karena memikirkan target. Ini yang kebanyakan terjadi di pasar. Memikirkan target dan tidak memikirkan banyak orang,” bebernya.
 
Cara menarik orang untuk membeli produk asuransi yang keliru ini tentu saja tidak tepat. Nasabah bisa tidak tahu, produk asuransi yang diambil. Sehingga ketika terkena suatu penyakit, nasabah berpikir bisa dilindungi oleh produk asuransi yang dimiliki. “Ternyata tidak. Karena yang dibelil adalah asuransi jiwa dan bukan asuransi kesehatan, sebagai contoh,” urai Lucy.
 
Kondisi ini bisa menimbulkan kekecewaan pada nasabah hingga kemudian menutup polisnya. “Nasabah merasa dirugikan. Apalagi agen menjualnya sebagai investasi. Ini yang banyak terjadi,” tegasnya lagi.
Meski di satu sisi ada kondisi seperti itu, di sisi lain, ada juga orang-orang yang paham dengan asuransi. Sehingga mereka, terutama yang berdomisili di Jakarta, bisa memiliki 5 polis untuk satu nasabah.

Artikel Lainnya